Putin telepon Trump tawarkan solusi cepat akhiri perang Iran
Tuesday, March 10, 2026
MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada Senin, mengajukan sejumlah usulan untuk mencapai penyelesaian cepat atas konflik yang sedang berlangsung di Iran, kata penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov.
Ushakov, sepeti dikutip Ruters, Selasa (11/3), mengatakan bahwa kedua pemimpin juga membahas konflik di Ukraina, menekankan bahwa kemajuan militer Rusia di medan perang seharusnya mendorong negosiator Kyiv untuk bergerak menuju penyelesaian.
Ia menggambarkan percakapan itu sebagai “sangat substansial” dan kemungkinan memiliki makna praktis bagi kerja lebih lanjut antara kedua negara.
Putin, menurut Ushakov,“mengungkapkan beberapa pemikiran yang bertujuan pada akhir politik dan diplomatik yang cepat untuk konflik Iran, termasuk kontak dengan para pemimpin negara Teluk, presiden Iran, dan pemimpin negara lain.”
Sementara itu, Trump menawarkan penilaiannya tentang operasi AS dan Israel, dan menekankan bahwa akhir cepat konflik Ukraina dengan gencatan senjata dan penyelesaian jangka panjang adalah kepentingan AS.
Ushakov menambahkan bahwa pembicaraan juga menyentuh situasi di Venezuela dalam konteks pasar minyak global. Hal ini menunjukkan bahwa kedua presiden mempertimbangkan stabilitas energi dunia dan dampak geopolitik yang lebih luas.
Backstage Partner?
Sebelum percakapan telepon dengan Trump, para pakar sudah menekankan bahwa Rusia selama ini sudah bertindak sebagai ‘backstage partner’ dalam konflik Iran Dalam konflik Iran, Rusia mengadopsi peran “backstage partner”, yakni mendukung Iran secara diplomatis dan teknis tanpa terlibat langsung di medan perang.
Nicole Grajewski menulis di RussiaMatters.org (9/3/2026), bahwa peran Moskow dalam perang Iran adalah kemitraan terbatas, bukan aliansi pertahanan.
Rusia menguntungkan secara strategis dari konflik ini, tetapi tidak akan mengerahkan pasukan, kekuatan udara, atau konfrontasi terbuka dengan Washington. Perjanjian “strategic partnership” tahun 2025 secara eksplisit menghindari kewajiban pertahanan bersama.
Alih-alih transfer senjata besar-besaran, kontribusi Rusia meliputi dukungan teknis dan operasional, seperti potensi intelijen, targeting support, serta berbagi keahlian dalam electronic warfare dan perlindungan GPS. Grajewski menyimpulkan bahwa Rusia tetap menjadi “partner di balik layar”.
Nikita Smagin dari Carnegie Endowment menambahkan bahwa Rusia tidak akan melakukan intervensi militer langsung karena menghargai hubungannya dengan Israel dan tidak ingin merusak hubungan dengan Trump.
Jika rezim Iran saat ini bertahan, negara itu bisa memberikan pengaruh politik signifikan kepada Moskow sebagai imbalan bantuan, dan Rusia siap menukar dukungan dengan “sepotong kedaulatan Iran,” seperti yang pernah dilakukan dengan rezim Assad di Suriah. (YS/MT)