Harga batu bara melemah, TOBA bukukan rugi Rp2,7 Triliun

Tuesday, March 10, 2026

image

JAKARTA - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan rugi bersih sebesar US$162,26 juta atau sekitar Rp2,7 triliun sepanjang 2025 (kurs Jisdor 31 Desember 2025 Rp16.720 per dolar AS). Kerugian terjadi di tengah penurunan pendapatan serta tekanan harga batu bara global.

Berdasarkan laporan keuangan 2025, pendapatan tercatat US$380,22 juta atau sekitar Rp6,35 triliun, turun 14,7% dibandingkan 2024 yang mencapai US$445,6 juta. Kerugian tersebut dipicu oleh melemahnya harga batu bara sepanjang 2025 serta kerugian non-kas sebesar US$97 juta dari divestasi aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Direktur TOBA, Juli Oktarina, mengatakan tahun 2025 menjadi periode penting dalam transformasi bisnis perseroan. “Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, untuk mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan TOBA, yaitu pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik, yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara,” kata Juli dalam keterangan resmi, Senin (9/3).

Dari sisi komposisi pendapatan, segmen pengelolaan limbah menyumbang US$155,4 juta atau 41% dari total pendapatan perusahaan. Sementara bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara menyumbang US$194,6 juta atau 51%, turun dari 81% pada tahun sebelumnya.

Meski mencatat rugi bersih, perseroan masih membukukan EBITDA disesuaikan positif sebesar US$47,2 juta dengan saldo kas US$102,3 juta, meningkat 15% dibandingkan 2024.

Sejalan dengan transformasi bisnis menuju sektor rendah karbon, perseroan memperkuat bisnis pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik. Langkah ini ditandai dengan akuisisi Sembcorp Environment yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment, untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar pengelolaan limbah Singapura.

Perseroan juga melakukan divestasi dua unit PLTU yang sebelumnya menyumbang sekitar 86% emisi portofolio pembangkit atau sekitar 1,4 juta ton CO₂ per tahun.

Pada November 2025, TBS meluncurkan Climate Transition Plan (CTP) sebagai panduan dekarbonisasi operasional dan portofolio. Menurut Juli, strategi tersebut memberi fleksibilitas bagi perseroan untuk tetap tumbuh di tengah ketidakpastian pasar energi global.

“Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.(DH)

TOBABatu BaraLAporan KeuanganPLTU